SURABAYA, Beraksi.com - Ketersediaan pasokan daging sapi dalam negara dinilai belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Terbukti dengan masih berjalannya pengimporan daging sapi impor dari negara lain seperti Australia. Pertumbuhan penduduk yang pesat turut mempengaruhi peningkatan pembelian daging sapi per tahun. Namun, mengingat pandemi yang belum berakhir membuat daya beli masyarakat juga tidak setinggi sebelum pandemi.
Beberapa hari sebelum lebaran, harga daging sapi mengalami lonjakan harga hingga nyaris Rp. 200.000/kg. Bahkan sebulan menjelang lebaran, harga daging sapi sempat menyentuh harga Rp. 150.000/kg. Tak heran banyak warga yang mengeluhkan permasalahan ini setiap harinya. Kenaikan harga daging sapi tentu membuat warga resah, tak hanya bagi para penjual namun juga bagi para konsumen. Kondisi ini membuat mereka harus berpikir cermat. Para penjual dipaksa berpikir mengenai cara agar bisa terus berjualan dan menghasilkan untung, sedangkan para pembeli berpikir mengenai budget belanja mereka.
Kenaikan harga daging sapi ini juga diikuti dengan kenaikan bahan pangan yang lain. Seperti, daging ayam, cabai rawit, hingga bawang-bawangan. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan rakyat pada kebutuhan daging sapi, terutama menjelang lebaran. Namun, produksi sapi lokal dan pasokan negeri tidak dapat memenuhi kebutuhan yang tinggi ini. Impor daging sapi pun sudah dilakukan, namun karena harga sapi impor yang tinggi dan adanya perbedaan kurs membuat harga nasional sulit dikendalikan.
Para warga berharap pemerintah dapat mengambil tindakan cepat untuk mengatasi masalah ini. Cicianti, salah satu warga yang juga merupakan pembeli rutin daging sapi mengeluhkan ia harus mengatur kembali keuangan belanjanya agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Ya pastinya saya tetap membeli tapi saya kurangi, yang tadinya satu minggu bisa 2 sampai 3 kali beli jadi seminggu sekali saja,” curhat Cicianti mengenai kenaikan harga daging sapi.
Dampak dari kenaikan harga daging sapi ini berpengaruh pada keputusan konsumen dalam membeli daging sapi. Sebagian masyarakat yang berpenghasilan atas mungkin tidak akan merasa keberatan dengan harganya, namun bagi masyarakat menengah kebawah tentu harga ini menjadi momok. Mereka akan berpikir kembali mengenai tindakan yang harus diputuskan, entah itu mengurangi jumlah yang dibeli atau malah berpindah pada produk pangan lain.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), Nasrullah, menanggapi bahwa ketersediaan daging sapi masih aman sehingga seharusnya tidak ada kenaikan harga. Nyatanya, apa yang terjadi di lapangan berbeda dengan tanggapannya. Harga daging sapi melonjak drastis, membuat Nasrullah meminta Satgas Pangan untuk menelusuri penyebab masalah ini.

Comments
Post a Comment