Beraksi.com - Kamis, 19 Mei 2022 21.00 WIB
Angle : Tips berpacaran yang sehat
Penulis : William Sutanto
SURABAYA, Beraksi.com, Pacaran sehat menjadi gaya berpacaran yang baik pada zaman sekarang. Pacaran sehat dapat membuat kita terhindar dari hubungan yang toxic. Pacaran yang sehat adalah gaya berpacaran yang diidam idamkan generasi muda sekarang. Tetapi, realitanya, tidak semua pasangan memiliki hubungan ideal tersebut. Banyak dari kalangan muda terjebak pada hubungan yang toxic dan susah untuk keluar dari hubungan tersebut. Pada hubungan ini,terkadang ada juga hubungan yang dijalin justru merugikan salah satu pihak. Dengan kata lain, ada pihak yang merasa dimanfaatkan oleh pihak satunya, ibarat benalu.
Jadi bagaimana caranya untuk terhindar dari hubungan yang toxic? Sebelum mengetahui bagaimana cara terlepas dari hubungan yang toxic, kita harus mengerti pengertian dari Toxic Relationship.
Toxic relationship adalah hubungan yang merugikan kedua belah pihak, pada hubungan yang toxic ini tidak ada yang diuntungkan. Menurut Liestianingsih Dwi Daynati seorang dosen komunikasi psikologi. "Toxic relationship itu berarti hubungan yang membuat masing-masing individu itu justru bukannya meningkat malah menurun. Menurun itu bisa dari segi banyak hal bisa dari kualitas dirinya sebagai individu. Zaman sekarang secara finansial juga bisa menurun,"
Sudah jelas, bahwa pada hubungan ini seseorang dirugikan dengan adanya hubungan pacaran ini. Hubungan pacaran yang seharusnya digunakan untuk bertumbuh dan berkembang justru membuat pasangan menurun.
Lies juga mengatakan bahwa ada beberapa penyebab hubungan yang toxic, seperti
Relasi komunikasi yang kurang baik, pada hubungan yang sehat komunikasi yang dijalin berjalan dengan lancar dan normal. “Komunikasi yang kurang baik menjadi salah satu penyebab hubungan yang toxic.” ucap Lies
Terlalu mendominasi, pada hubungan yang toxic, salah satu pasangan akan menjadi pihak yang memiliki kontrol atas suatu hubungan. Hal ini termasuk dalam hubungan yang toxic karena jika salah satu pasangan terlalu mendominasi maka cenderung akan membuatmu mudah meremehkan pasangan.
Melarang pasangan untuk melakukan sesuatu, sebagai seorang pacar seharusnya ikut bahagia dan mendukung pasangannya dalam melakukan sesuatu yang Ia sukai. Tetapi hal ini tidak kita temukan dalam hubungan yang toxic.
Menganggap pasangan sebagai benda, dalam hubungan yang toxic, salah satu pasangan akan menganggap pasangannya sebagai benda miliknya. Hal ini terjadi karena sejatinya orang tersebut hanya mencintai dirinya sendiri, tidak kepada pasangannya.
Trauma masa lalu, sebagian besar dari pelaku hubungan toxic terjadi karena pernah mengalami trauma di masa lalu seperti trauma oleh orang tuanya, trauma oleh hubungan sebelumnya atau mengalami gangguan kesehatan yang belum terdiagnosis.
Menurut Lies, ciri-ciri hubungan yang toxic salah satunya posesif. Sifat posesif ini muncul dari rasa yang tidak aman dan ragu ragu. Posesif mencerminkan harga diri yang terluka dan rasa rendah diri. Ini adalah emosi yang sangat berbahaya, terutama dalam hubungan. Sikap posesif yang ditunjukan oleh pasangan ini sangatlah ekstrim sebagai contoh, perempuan marah kepada pasangannya karena Ia terlambat menjemput lebih dari lima menit.
Hal ini sangatlah salah karena, sebagai pasangan kita harusnya memaklumi kesalahan-kesalahan kecil yang dilakukan pasangan kita. Selain posesif, ciri lainnya adalah pasangan akan memiliki kontrol yang luar biasa terhadap kekasihnya. Mereka akan takut kehilangan kekasihnya karena mereka merasa bahwa pacar mereka adalah properti yang Ia miliki. Sehingga Ia akan merasa kehilangan dirinya saat Ia kehilangan pacarnya.
“Pasangan dianggap sebagai benda yang Ia miliki, biasanya pasangan akan sangat mengatur dan memiliki kontrol yang luar biasa.” ungkap salah satu dosen universitas Widya Mandala tersebut.
Kekerasan menjadi faktor penentu dalam hubungan yang toxic. Baik dalam suatu hubungan atau bukan, kekerasan adalah suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Kekerasan dalam hal ini dapat berupa kekerasan fisik dan kekerasan verbal. Kekerasan fisik berupa pukulan yang ditujukan kepada korban dan kekerasan verbal berupa ejekan, perkataan kasar, merendahkan, dan masih banyak lagi.
Menurut Laras, Ia mengatakan bahwa sebagai pasangan jangan saling mengekang karena semakin dikekang akan semakin susah diatur, “ Jadi, benar memang kalau pasangan kita harus dukung aja kemauan dia selagi perbuatan tersebut itu positif.” kata Laras saat di interview oleh pihak beraksi.
Hal yang serupa juga diungkapkan Reinard, kekasih Laras. Sebagai pasangan, kita seharusnya mendukung kegiatan yang diinginkan kekasih kita, karena kita sebagai kekasih berperan sebagai support system bagi mereka, tempat bercerita dan tempat meluapkan isi hati. “Jika ada masalah atau hal yang mengganjal dibicarakan saja, ditanyain, jangan malah fitnah atau ngatur-ngatur.” ungkap Reinard
Bagaimana jika kita sudah terlanjur berada di hubungan yang toxic? Bagaimana cara kita untuk lepas? Menurut Lies, pacaran adalah fase atau jembatan menuju pernikahan sehingga pacaran adalah masa yang penting bagi mereka yang ingin menikah. “Kita harus punya prinsip, bahwa kita berpacaran untuk hidup tentram dan bahagia.” Dari pernyataan tersebut kita sudah paham betul bahwa hubungan toxic tidak layak untuk dilanjutkan. jika saat pacaran saja sudah bersikap toxic, bagaimana Ia akan bersikap saat menikah?
Jadi solusi yang tepat adalah untuk mengakhiri hubungan tersebut. Meskipun memang diakui susah untuk melepas hubungan yang toxic tetapi pada akhirnya, yang bisa memutuskan adalah diri kalian sendiri. Davina dengan pengalaman berpacaran lebih dari 2 tahun juga mengungkapkan hal yang serupa, “Ya sudah, diputuskan saja, meskipun susah tetapi kalau hubungannya udah ga worth it lebih baik ga usah dilanjut.”, cerita Davina.
Jadi, bagaimana terhindar dari hubungan yang toxic?
Kita harus memanfaatkan masa masa pacaran dengan baik, setiap pasangan harus pandai memilih pasangannya. Beberapa sikap yang haram diantaranya tempramental, egois, tidak suka binatang. Menjadi ciri ciri yang harus kalian perhatikan dalam memilih kekasih.
Menurut Davina, proses pacaran adalah proses menuju pernikahan, jika memang sudah tidak cocok, untuk apa dilanjutkan. Davina juga mengungkapkan “Jangan tergesa-gesa dalam menjalin suatu hubungan, kalau dari awal udah merasa engga pas jangan dilanjut.” Dalam proses pacaran juga bukan serta merta melihat persamaan yang ada.
Pasangan yang baik adalah pasangan yang memiliki banyak perbedaan dan saling melengkapi satu sama lain. “Pasangan yang ideal adalah yang bisa menghargai perbedaan yang ada.” ungkap Lies. Membangun kepercayaan juga menjadi salah satu faktor penting agar kita terhindar hubungan yang toxic, dengan percaya kepada pasangan, kemungkinan kita menjadi posesif akan berkurang.
Apabila Anda merasa stres dan terganggu dengan masalah yang ada dalam hubungan, sebaiknya bicarakan baik-baik bersama pasangan dengan kepala dingin.
Kalau Anda dan pasangan tidak juga mendapatkan solusi, sebaiknya carilah bantuan dari psikolog untuk meminta tips dan saran.

Comments
Post a Comment