Beraksi.com-Rabu, 26 Mei
2022 11.00 WIB
Penulis: Falens
Maitreyani
SURABAYA, Beraksi.com – “Sebelum kita pulang, berdoa du..lu. Berdoa mulai,”
ucap seorang guru di kelas berwarna-warni dengan karpet merah tersebut. Para
siswa menutup kedua kelopak matanya dan menyatukan tangan mereka di pangkuan. Jam
di dinding menunjukkan pukul 10.00, waktu mereka untuk menyelesaikan
aktivitasnya di sekolah.
Satu-satunya ruangan yang diberi pintu berwarna jingga terletak di ujung lorong paling kanan lantai 1, seakan-akan ingin mencolok di antara pintu coklat yang ada di sana. Setelah melepas alas kaki dan berjalan masuk, akan ada papan tulis besar berwarma putih dan siswa-siswi yang sedang belajar dengan lesehan serta bertumpu pada meja panjang yang rendah menyambut pemandangan. Namanya Ruang Sumber, kelas belajar khusus anak inklusi di SMP Negeri 7 Surabaya yang tim Beraksi.com kunjungi pada hari Selasa (17/5) lalu.
Siapa itu ABK?

ABK adalah singkatan dari Anak
Berkebutuhan Khusus yang sering kali dipandang sebelah mata karena
keterbatasannya dalam mental, emosional, fisik seperti penyandang cacat
(tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan tunalaras).
Sri Winarti (50) memiliki seorang
putra yang juga berkebutuhan khusus. Pada awalnya, sang putra masuk ke sekolah
umum dan belajar seperti anak-anak lainnya, namun saat pertengahan kelas 1 SD
ia baru mengetahui putranya berkebutuhan khusus. “Baru kami ketahui ia memiliki
kebutuhan khusus tersebut setelah kami ajak ke Tumbuh Kembang di Rumah Sakit Dr.
SOETOMO.”
Apakah ABK harus masuk
ke SLB ataupun memilih Homeschooling?

Sri kurang menyetujui untuk
memasukkan anaknya ke SLB, katanya, “Kalau di SLB memang semua anak mempunyai
kekurangannya, jadi kalau kami masukkan ke situ, kami takutnya justru anak kami
‘ikut’.” Ia melanjutkan, “Kalau di SMPN 7, ada kelas inklusi dan reguler, jadi
anak bisa bersosialisasi dengan anak reguler.” Sri juga menjelaskan setelah anaknya
diajari kata baru, selang dua hingga tiga jam ia telah melupakan apa yang baru
saja dipelajarinya, oleh karena itu homeschooling masih belum menjadi
pilihan yang tepat.
Sebagai orang tua sekaligus guru, ia dan pasangan akhirnya memilih SMPN 7 sebagai tempat anaknya menimba ilmu berdasarkan hasil pertimbangan mereka. “Dari berbagai sumber, akhirnya saya condongnya masuk ke SMP Negeri 7. Memang ada keinginannya (anak) untuk masuk sekolah lain karena teman-temannya yang inklusi juga, tapi dengan masukan dari kami ‘SMP 7 seperti ini, ini, ini’ akhirnya anaknya mau,” jelas Sri.
Mengapa SMPN 7 Surabaya
menerima murid berkebutuhan khusus?

Sejak 2017, SMPN 7 Surabaya telah
menerima murid ABK. Hal ini berdasarkan program pemerintah anti diskriminasi,
pemerataan siswa-siswi berkebutuhan khusus di sekolah negeri. Sehingga sekolah
negeri tidak boleh menolak anak inklusi. Rifka Silvi (27) menjelaskan, “Ini kan
ditunjuk Dinas, kita gak bisa milih. Jadinya Dinas yang nentuin SMPN 7 program
itu program pendidikan inklusi.”
Dinas sendiri juga memberikan
bantuan berupa tenaga kerja, uang, dan barang-barang seperti kursi roda,
blender, mixer, buku, dan rice cooker. Oleh karena itu, Rifka
beserta rekan-rekan gurunya yaitu Reza Wartanto (27) dan Cikita Alifia (26)
memanfaatkan hal tersebut. “Jadi, anak-anak tidak hanya diajarkan secara
akademik, tetapi diajarkan tentang kewirausahaan, bisnis, kemampuan
mengembangkan diri. Bagaimana cara anak-anak bisa survive, bisa
menghasilkan uang sendiri agar bisa survive di masa depan,” ucap Rifka.
Bagaimana pembelajaran
di kelas ABK SMPN 7 Surabaya?

Tiap anak memiliki kebutuhan yang
berbeda-beda sehingga pengajaran yang dilakukan pun menyesuaikan kondisi sang
anak. “Ada beberapa kasus yang harus diterapi, ya kita terapi. Contohnya ada
siswa anak tunarungu, dia kan gak bisa bicara gak bisa dengar. Kita kasih
terapi oralnya dia, gimana cara dia ucapin ABCD. Tapi, siswanya kan gak sedikit
ya jadi jadwalnya kita tentuin, kadang dua hari sekali, seminggu sekali,
tergantung jadwalnya,” ujar Rifka. Selain terapi oral, Reza mengatakan bahwa
ada terapi metode calistung (baca, tulis, hitung) kepada anak-anak yang masih
kurang dalam tiga hal tersebut.
Di SMPN 7 Surabaya, ekstrakulikuler
juga boleh diikuti oleh siswa ABK. Namun sekolah tidak memaksa karena ABK
sendiri memiliki keterbatasan seperti mudah capek, bosan, dan sebagainya.
Perlombaan khusus bagi ABK juga
diadakan tiap tahun oleh Dinas Pendidikan dengan cabang-cabang lomba olahraga,
bina diri (kemandirian anak), membatik, parsel, dan lain-lain dalam rangka
memperingati Hari Anak Inklusi, Hari Autisme, dsb. Setiap tahunnya juga,
murid-murid ABK dari SMPN 7 tidak pernah absen.
Suka duka menjadi
seorang guru ABK

Reza, pria berkacamata itu
mengatakan saat ia mengajar ABK, ia merasa tertantang untuk mengajar anak-anak
dalam bidang akademik maupun non akademik. Selain itu, Rifka menambahkan adanya
partner kerja bagus sehingga kerja sama kompak, para siswa yang
baik-baik dan lucu, fasilitas lengkap, serta dukungan dari guru pengajar
reguler. Namun, sering kali sebagai guru juga harus sabar menghadapi siswa yang
sedang tantrum atau tidak mau diajak berbicara dan berisik sendiri. Juga
menghadapi para orang tua yang kurang mendukung pendidikan anaknya.
Cikita membagikan cerita miliknya,
“Kalau di kuliah kan gak ada pelajaran bersyukur, kita cuma diajarkan untuk
gini, gini, gini (teori) udah itu aja. Tapi ternyata pas di lapangan ‘oh
ternyata kita ini harus lebih bersyukur lagi’. Mereka (ABK) itu kayak kanvas,
siapa yang nge-lukis ya dia yang akan dapat warna itu. Kalau gak ada yang
nge-lukis, warnanya jelek dia bakalan jadi jelek. Kalau warnanya bagus, dia
juga akan jadi bagus.”
Hal-hal yang pernah mereka bertiga
alami yaitu murid yang BAB di celananya, ngiler, muntah, tantrum, dll yang di
luar ekspektasi dan mau tidak mau harus dihadapi dengan kesabaran, jelas Rifka
sambil sesekali menorehkan coretan di kertas hadapannya.
Terakhir, pesan ketiga guru
tersebut kepada orang tua di luar sana yang belum berani melepaskan anaknya.
“Orang tua harus lebih menerima kalau memang anaknya berkebutuhan khusus.
Kadang orang tua (menyadari) anaknya sudah seperti itu, orang tua gak mau
anaknya dibilang inklusi,” tutur Cikita.
“Anaknya ini gak mampu, tapi ibunya
masih maksa untuk dimampu-mampukan. Jadinya masuk reguler gak naik, gak lulus,
itu jadinya yang menghambat. Jadi semua kesadaran dari orang tuanya dulu.
Gimana cara orang tua memotivasi anaknya juga, gak apa-apa kamu gak gila,
istilahnya, kamu gak bodoh. (pada akhirnya) Nasibnya kan sama aja kan,” lanjut
Cikita.
Sri sebagai orang tua ABK juga memberikan
pesan kepada sesama orang tua di luar sana. “Tidak perlu berkecil hati, karena
setiap manusia yang ada itu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bahkan
kekurangan seburuk apapun itu, pasti ada setitik kelebihan dari mereka. Jadi
tetap semangat,” tutup Sri seraya tertawa hangat.

Comments
Post a Comment